10 Feb 2011

Browse: Home / / Pengertian Ilmu Hikmah

Pengertian Ilmu Hikmah

Menurut kamus bahasa Arab, al-Hikmah mempunyai banyak arti. Diantaranya, kebijaksanaan, pendapat atau pikiran yang bagus, pengetahuan, filsafat, kenabian, keadilan, peribahasa (kata-kata bijak), dan al-Qur'anul karim. (Kamus al-Munawir: 287).

Sedangka Imam al-Jurjani rahimahullah dalam kitabnya memberikan makna al-Hikmah secara bahasa artinya ilmu yang disertai amal (perbuatan). Atau perkataan yang logis dan bersih dari kesia-siaan. Orang yang ahli ilmu Hikmah disebut al-Hakim, bentuk jamaknya (plural) adalah al-Hukama' . Yaitu orang-orang yang perkataan dan perbuatannya sesuai dengan sunnah Rasulullah." (Kitab at-Ta' rifat oleh al-Jur jani: 96-97).

Al-Hikmah juga bermakna kumpulan keutamaan dan kemuliaan yang mampu membuat pemiliknya menempatkan sesuatu pada tempatnya (proporsional). Al-Hikmah juga merupakan ungkapan dari perbuatan seseorang yang dilakukan pada waktu yang tepat dan dengan cara yang tepat pula. (Al-Qur'an, Tafsir wa Bayan; 412).
Dan dalam kosa kata bahasa Indonesia, kata Hikmah mempunyai beberapa arti. Pertama, kebijaksanaan dari Allah. Kedua, sakti atau kesaktian (kekuatan ghaib). Ketiga, arti atau makna yang dalam. Keempat, manfaat.

Para ulama' tafsir rahimahumullah juga mempunyai definisi masing masing tentang ilmu al-Hikmah. Yang  mana antar pendapat tersebut saling berkaitan dan melengkapi satu sama lain. Imam Mujahid mengartikan al-Hikmah, "Benar dalam perkataan dan perbuatan". lbnu Zaid memaknai, "Cendekia dalam memahami agama." Malik bin Anas mengartikan, "Pengetahuan dari pemahaman yang dalam terhadap agama Allah, lalu mengikuti ajarannya." Ibnul Qasim mengatakan, "Memahami ajaran agama Allah lalu mengikutinya dan mengamalkannya." Imam Ibrahim an-Nakho'i mengartikan, "Memahami apa yang dikandung al-Qur'an."

lmam as-Suddiy mengartikan al-Hikmah dengan an-Nubuwwah (kenabian). Ar-rabi' bin Anas berkata, "Rasa takut kepada Allah." Hasan al-Bashri memaknai, "Sifat wara' (hati-hati dalam masalah halal dan haram)." Imam al-Qulthubi berkata, "Semua  makna di atas saling berkaitan satu sama lain, kecuali pendapat as-Suddi. Ar-Rabi' dan al-Hasan. Ketiga pendapat rnereka saling berclekatan satu sama iain. Karena al-Hikmah sumbernya dari al-Ahkam. Yang artinva mumpuni dalam perkataan dan perbuatan. Dan semua makna yang sebutkan di atas adalah bagian dari al-Hikmah. Al-Qur'ar itu hikmah, sunnah Rasulullah juga hikmah." (Kitab Tafsir al-Qurthubi: 3/330).

Imam at-Thabari rahimahullah menambahkan, “Menurut kami, makna hikmah yang tepat adalah ilmu tentang hukum-hukum Allah yang tidak bisa dipahaminya kecuali melalui penjelasan Rasulullah.  Dengan begitu al-Hikmah disini berasal dari kata al-Hukmu yang bermakna penjelasan antara yang haq dan yang bathil. Sepertikalimat al-Jilsah berasal dari kata al-Julus. Kalau dikatakan bahwa si Fulan itu orang yang Hakim, berarti dia itu orang yang benar dalam perkataan dan perbuatan." (Kitab Tafsir at-Thaban: 1/ 557).

Sejatinya llmu Hikmah

Jika kita memperhatikan makna al-Hikmah dalam ayat-ayat al-Qur'an, maka akan kita jumpai mayoritas makna al-Hikmah adalah al-Hadits atau as-Sunnah. Mayoritas kata al-Hikmah dalam ayat al-Qur'an disandingkan dengan kata al-Kitab yang maksudnya adalah al-Qur'an. Perhatikanlah ayat-ayat berikut, misalnya:

"Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan ni'mat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu al-Kitab dan al-Hikmah (as-Sunnah), serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.” (QS. al-Baqarah: 151).

"Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah (sunnah Nabimu). Sesungguh-nya Allah adalah Maha Lembut lagi Maha Mengetahui.” (QS. al-Al-Ahzab: 34). Di surat lain, "Dia-lah yang  mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkankepada mereka Kltab dan Hikmah. (as-Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalarn kesesatan yang nyata.” (QS. al-Jumu'ah: 2).

Dari ragam definisi ilmu al-Hikmah tersebut, kita bisa memahami bahwa yang dimaksud clengan ilmu al-Hikmah adalah ilmu yang mempelajari al-Qur'an dan al-Hadits, yang mencakup cara bacanya dengan benar, pemahaman maksud dan apa yang dikandungnya, lalu mempraktikkannya dalam perkataan dan perbuatan. Apabila perkataan dan perbuatan kita berlandaskan pada dua kitab tersebut, maka kita tidak akan salah atau tersesat dari jalan yang benar.

Rasulullah bersabda, "Telah aku tinggalkan pada kalian dua hal. Kalian tidak akan tersesat selama masih berpegang teguh pada keduanya, yaitu Kitabullah (al-Qur'an) dan sunnah nabi-Nya (al-Hadits)." (HR. Malik, no. 1395)

Dan tidak ada satu pun ayat atau hadits shahih yang menjelaskan bahwa maksud dari ilmu al-Hikmah adalah ilmu kesaktian atau kadigdayaan, yang menjadikan pemiliknya kebal senjata tajam, tidak terbakar oleh api, bisa menghilang, mampu menerawang atau meramal, bisa melihat jin dan syetan, serta tujuan kesaktian lainnya. Apalagi kalau dalam proses mendapatkan ilmu seperti itu dengan puasa atau shalat serta wirid bacaan yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah SAW.

Ilmu hikmah bukanlah ilmu sihir yang melibatkan bantuan jin atau syetan. Sehingga bisa di transfer dari satu oranq ke orang lain, dipamerkan di tempat-tempat keramaian, dijadikan sebagai bahan pertunjukan, dipelajari dalam waktu sekejap, dimiliki dengan ritual-ritual khusus, dikuasai dengan media jimat atau benda pusaka, atau diperjual-belikan dengan mahar-mahar tertentu.

Ilmu Hikmah adalah ilmu panduan, yang membimbing kita mengenal ajaran-ajaran Allah dan sunnah Rasul-Nya, sehingga kita bisa mengetahui mana yang halal dan mana yang haram, mana yang diperintahkan dan  mana yang dilarang. Dengan ilmu hikmah seperti itulah, kita akan menjadi orang yang benar dalam perkataan dan perbuatan. Itulah sejatinya ilmu Hikmah.

Mempelajari Sumber Ilmu Hikmah 


Apabila kita memperhatikan definisi ilmu Hikmah yang disampaikan oleh para ulama' di atas, maka kita bisa menyimpulkan bahwa ilmu Hikmah itu ada sumbernya, yaitu al-Qur'an dan a-Hadits. Keduanya merupakan referensi ilmu Hikmah yang sebenarnya. Apabila ada kitab-kitab lain yang mengajarkan ilmu hikmah, tapi ternyata bertentangan atau menyimpang dari al-Qur'an dan al-Hadits, berarti itu adalah ilmu Hikmah palsu atau gadungan. Apalagi kalau sumber ilmu itu berasal dari agama lain, diadopsi dari keyakinan dan syari'at lain, buah dari akulturasi budaya yang sarat mistik dan syirik, maka kita tidak boleh ikut-ikutan mempelajarinya. Jangan terpedaya dengan kemasan palsu yang mengatasnamakan ilmu Hikmah. Waspadalah!!!

Setiap kita bisa mempelajari sumber ilmu Hikmah. yaitu dengan mengkaji al-Qur'an dan as-Sunnah. Hanya saja daya serap otak kita, tingkat pemahaman kita, serta kemampuan kita untuk mengamalkan isi kandungannya, akan berbeda satu sama lainnya. Kitab al-Qur'an dan al-Hadits yang kita pelajari, boleh sama. Tapi daya tangkap kita, dan akurasi pemahaman makna terhadap teks yang tertulis akan berbeda satu sama lain. Begitu juga kemampuan dalam mempraktikkan ilmu yang telah diketahui. Tidak semua orang yang membaca al-Qur'an dan al-Hadits, serta-merta memahami maknanya. Dari sekian orang yang paham maknanya, ternyata tidak semua mampu mempraktikkannya dalam perkataan dan perbuatannya.

Kemampuan memahami secara mendalam terhadap al-Qur'an dan as-Sunnah itulah anugerah yang besar dari Allah yang tidak bisa dimiliki oleh setiap orang, begitu juga kemudahan dalam mengamalkannya. Apabila kita dianugerahi oleh Allah kemudahan dalam memahami agama ini dari sumbernya, dan kemampuan untuk mempraktikkannya dalam kehidupan, serta mengajarkannya kepada yang lain, berarti kita termasuk hamba yang diberi ilmu Hikmah. Dan itulah anugerah Allah termahal dan terindah, sebagaimana dijelaskan dalam surat al-Baqarah ayat 269. Sehingga dengan ilmu itu perkataan dan perbuatan kita benar, sesuai dengan syari'at Islam.

Simaklah perkataan Imam Nawawi rahimahullah  saat dia menjelaskan tentang iimu Hikmah yang sebenarnva. Imam an Nawawi berkata, "Ilmu al-Hikmah adalah ilmu yang berkaitan dengan hukum-hukum agama yang lengkap untuk mengenal Allah yang diiringi dengan tajamnya pikiran dan lembutnya jiwa serta mulianya akhlak. Merealisasikan kebenaran dan mengamalkannya, berpaling dari hawa nafsu dan kebathilan." (Kitab Faidhu Qadir: 3/ 416).

Sedangkan al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah menyimpulkan bahwa makna al-Hikmah yang tepat adalah pemahaman yang mendalam terhadap kandungan kitab al-Qur'an. Iman dan hikmah biasanya  berdampingan, walaupun kadang terdapat juga hikmah yang tidak bersandingan dengan iman." (Kitab Fathul Bari: 7/ 205).

Itulah wujud dari kemuliaan sejati, karena kita bisa menjadi hamba yang taat, dengan kemampuan kita untuk mengetahui perintah-perintah-Nya lalu mentaatinya. Dan mengetahui larangan-larangan-Nya lalu menjauhinya. ltulah sifat hamba yang bertakwa dan berhak menjadi orang yang paling mulia. “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa." Begitulah Allah menjelaskan standar kemuliaan sejati dalam surat al-Hujurat ayat 13.

llmu Hikmah itu Anugerah

Dalam al-Qur'an disebutkan, “Allah menganugrahkan al-Hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al-Qur'an dan As-Sunnah) kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa yang dianugrahi al-Hikmah itu, ia benar-benar telah dianugrahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).” (QS. Al-Baqarah: 269)

Shahabat lbnu ‘Abbas berkata, "Yang dimaksud dengan al-Hikmah dalam ayat tersebut adalah pengetahuan tentang al-Qur'an, seperti mengetahui naskh dan mansukhnya (ralat dan yang diralat), ayat muhkam dan mutasyabihnya (yang jelas dan yang samar), yang pertama dan yang terakhir, yang dihalalkan dan yang diharamkan, dan yang semisalnya." Sedangkan lmam Qatadah, Abul 'Aliyah, lmam Mujahid, memaknai dengan al-Qur'an dan kepahaman mendalam akan apa yang dikandungnya." (Kitab Tafsir at-Thabari: 3/ 39).

lmam lbnu Jarir at-Thabari menafsirkan al-Hikmah dalam ayat tersebut dengan, "Kebenaran dalam perkataan dan perbuatan yang diberikan Allah kepada hamba-Nya yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa yang diberi kebenaran dalam perkataan dan perbuatan, berarti ia telah mendapatkan kebaikan yang sangat banyak." (Kitab Tafsir at-Thabari: 3/ 89).

Imam al-Qurthubi berkata, "Asal makna Hikmah adalah apa saja yang dapat menghalangi datangnya kebodohan. Maka dari itu ilmu juga disebut hikmah, karena ia dapat menghalau kebodohan dan segala perbuatan buruk. Begitu juga al-Qur'an, akal dan pemahaman. Dalam riwayat Imam Bukhari dikatakan,

"Barangsiapa yang dikehendaki baik oleh Allah, maka Allah akan memahamkannya dalam masalah agama." Imam Bukhari berkata, "Barangsiapa yang diberi hikmah, maka ia telah dianugerahi kebaikan yang banyak. Dan sering terulangnya kata al-Hikmah dalam al-Qur'an, tanpa menggunakan kata penggantinya, sebagai pertanda akan kemuliaan dan keutamaanny a." (Kitab Tafsir al-Qurthubiz: 3/330).

Abdullah bin Mas'ud berkata, Rasulullah SAW. bersabda, "Tidak boleh hasud (ghibthoh), kecuali dalam dua hal. Iri kepada orang yang diberi harta oleh Allah, lalu ia habiskan hartanya dl jalan yang benar. Dan iri kepada orang yang diberi ilmu Hikmah oleh Allah, lalu ia praktikkan ilmu tersebut dan mengajarkannya (kepada yang lain)." (HR. Bukhari' no. 6608 dan Musiim, no. 1352).

Al-Hafizh lbnu Hajar al-Asqalani berkata, "Yang dimaksud dengan hikmah dalam hadits tersebut adalah

al-Qur' an berdasarkan hadits yang diriwayatkan lbnu Umar. Atau lebih umum dari itu, yaitu ilmu yang bisa menolak kebodohan dan menjauhkan pemiliknya dari keburukan (penjelasan ini sama dengan penjelasan lmam Nawawi dalam kitabnya Syarhul Muslim, 6/ 98. red.). Sedangkan yang dimaksud dengan hasad disini adalah al-Ghibthah (keinginan agar bisa menjadi seperti orang yang dimaksud, red.).(Kitab Fathul Bari: 13 / 120).

Ilmu Hikmah adalah ilmu panduan, yang membimbing kita kita mengenal ajaran-­ajaran Allah dan sunnah­-sunnah Rasul-Nya, sehingga kita bisa mengetahui mana yang halal dan mana yang haram, mana yang diperintahkan dan mana yang dilarang. Dengan ilmu hikmah seperti itulah, kita akan menjadi orang yang benar dalam perkataan dan perbuatan. Itulah sejatinya ilmu Hikmah!

Artikel yang sama

0 komentar:

Poskan Komentar